Renungan Harian – Kejadian 10–11
Tema: Dari Kesombongan Manusia menuju Kedaulatan Allah
Kejadian 10 mencatat silsilah bangsa-bangsa—tampak seperti daftar nama, namun di sanalah kita melihat bagaimana Allah menggenapi perintah-Nya: “Beranakcuculah dan penuhilah bumi.” (Kej. 9:1). Bangsa-bangsa lahir, bahasa berkembang, dan wilayah terbentuk—semua berada di bawah kedaulatan Allah.
Namun Kejadian 11 memperlihatkan sisi lain hati manusia melalui Menara Babel. Manusia bersatu bukan untuk memuliakan Allah, melainkan untuk mencari nama bagi diri sendiri dan menolak kehendak Allah untuk tersebar ke seluruh bumi. Kesombongan kolektif ini berujung pada kekacauan: bahasa dikacaukan, manusia tercerai-berai.
Di sini kita belajar bahwa persatuan tanpa ketaatan tidak pernah berkenan kepada Allah. Allah tidak menentang persatuan, tetapi menentang kesombongan. Ketika manusia meninggikan diri, Allah merendahkan. Sebaliknya, ketika manusia taat dan rendah hati, Allah meninggikan.
Refleksi pribadi:
-
Apakah tujuan hidup dan pelayananku sedang membangun “menara” bagi nama sendiri?
-
Atau aku sedang taat menjalani panggilan Allah, meski harus tersebar, tersembunyi, dan tidak dikenal?
Pelajaran iman:
-
Allah berdaulat atas sejarah, bangsa, dan bahasa.
-
Kesombongan membawa kekacauan; ketaatan membawa damai.
-
Rencana Allah tidak pernah gagal, sekalipun manusia memberontak.
Doa:
Tuhan, ajar aku untuk hidup rendah hati dan taat. Jauhkan aku dari keinginan mencari nama bagi diriku sendiri. Biarlah seluruh hidupku memuliakan nama-Mu saja. Amin.
“TUHAN merendahkan orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (bdk. Amsal 3:34)

Posting Komentar